-
1389 views, 6 so far today
Produktivitas Kopi Enrekang Anjlok
- Thursday, November 3, 2011, 17:50
- Berita
- 1,423 views
- Add a comment
Produktivitas tanaman kopi arabika di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, menjelang panen raya bulan depan anjlok hingga 40 persen. Hal itu disebabkan perubahan cuaca secara mendadak dari hujan sepanjang tahun lalu menjadi kemarau selama tiga bulan terakhir.
Kaharuddin (50), petani kopi di Desa Buntusigi, Kecamatan Alla, Jumat (14/10/2011) mengatakan, perubahan cuaca secara drastis membuat bunga kopi berguguran dan memicu serangan jamur pada tanaman kopi. Buah kopi menjadi hampa dan mudah membusuk sehingga produktivitas anjlok sampai 40 persen selama dua bulan terakhir.
Kaharuddin (50), memetik biji kopi di Desa Buntusigi, Kecamatan Alla, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, Jumat (14/10/2011). Perubahan iklim secara mendadak dari hujan sepanjang tahun lalu menjadi kemarau selama dua bulan terakhir membuat bunga kopi berguguran dan tanaman terserang jamur. Produktivitas kopi anjlok hingga 40 persen menjelang panen raya bulan depan.
Lahan kopi seluas 1 hektar yang dikelolanya merosot dari 800 kg menjadi 450 kg. Kami hanya bisa gigit jari di tengah membaiknya harga kopi yang mencapai Rp 63.000 per kilogram, katanya. Harga itu lebih tinggi 20 persen ketimbang yang ditawarkan tengkulak. Bahkan, koperasi bersedia membeli hingga Rp 70.000 per kilogram untuk kopi arabika dengan kualitas terbaik.
Kabupaten Enrekang merupakan salah satu daerah penghasil kopi terbesar di Sulsel bersama Tana Toraja dan Toraja Utara. Ketiga daerah berdataran tinggi ini menyumbangkan 80 persen dari total produksi tahun lalu sebesar 33.000 ton.
Bupati Enrekang La Tinro La Tunrung mengatakan, tanaman kopi dibudidayakan di tujuh dari 12 kecamatan di wilayahnya, meliputi Kecamatan Baraka, Alla, Masalle, Buntubatu, Baroko, Bungin, dan Malua. Produksi kopi di dataran tinggi tersebut sekitar 10.000 ton per tahun, dengan melibatkan 35.000 petani.
Menurut La Tinro, produksi kopi di Enrekang tahun ini turun dibandingkan dengan tahun lalu sebesar 10.600 ton. Pada periode Januari-Juli 2011, produksi kopi di Enrekang baru mencapai 4.300 ton dari 18.000 hektar lahan.
Secara umum, produktivitas kopi Sulsel yang memiliki varitas khas kopi toraja baru mencapai 700 kilogram per hektar untuk robusta dan 800 kilogram per hektar untuk arabika dalam lima tahun belakangan.
Sumber: Kompas.Com
-
1389 views, 6 so far today
