Dangke Enrekang Masuk Istana

Selain terkenal dengan candu kopinya yang sudah menembus pasar mancanegara, Kabupaten Enrekang, Sulsel, juga menjadi satu-satunya wilayah penghasil keju lokal yang disebut dangke, makanan tradisional berbahan baku susu sapi yang dibekukan.

Atas prestasinya mengembangkan industri rumah tangga dangke, di daerahnya, Kamis (5/12) kemarin di Istana Negara, Jakarta, Bupati Enrekang La Tinro La Tunrung menerima penghargaan upakarti tertinggi di bidang industri yang langsung diberikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

La Tinro menerima penghargaan bersama 6 kepala daerah lainnya, diantaranya Bupati Demak H Taffa Zani sebagai kepala daerah yang peduli pada pengembangan industri rumah tangga dari hulu sampai hilir. Selain itu penghargaan pemerintah di bidang industri yang ditetapkan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) ini juga diberikan 7 orang dari jasa pengabdian dan 7 orang jasa kepeloporan. Penerimanya berasal dari kalangan pengusaha batik hingga komponen suku cadang.

Meski mendapat penghargaan upakarti, bupati Enrekang dua periode ini mengaku risih atas penghargaan yang diterimanya. ”Sebetulnya saya risih dengan penghargaan ini karena tidak dirasakan langsung oleh masyarakat. Meski mereka, industri rumah tangga yang mendapatkan. Mereka yang berjuang, tapi penghargaan ini menjadi cambuk bagaimana pemerintah daerah bersama masyarakat membangun industri ini,” terangnya saat dihubungi via telapon.

Untuk itu ke depannya, dalam mengembangkan industri dangke, pihaknya telah menyusun road map agar dangke bukan hanya diterima secara nasional tapi bisa melanglang buana ke luar negeri.

“Pemkab Enrekang akan menciptakan agar dangke ini memiliki cita rasa sama. Ada formula khusus bagaimana membuat dangke. Resepnya dari masyarakat sendiri dan dibantu dengan kemasan dan pemasarannya,” ujarnya. Dengan populasi ternak yang mampu menghasilkan 672.000 liter susu pertahun, lanjut La Tinro, produksi dangke Enrekang, mampu memenuhi permitaan konsumen yang peminatnya tersebar di Makassar, Kalimantan, Papua, Jakarta hingga Malaysia. Dengan harga jual antara Rp8 ribu– Rp15 ribu per potongnya, peternak bisa mendapat keuntungan antara Rp6 juta – Rp8 juta untuk setiap ekor sapi.

“Dangke yang menjadi trend mark Kabupaten Enrekang, bahkan sudah dipatenkan pemkab Enrekang pada Direktorat Paten dan Hak Cipta Depkumham RI. Dangke ini tersebar hampir di semua wilayah, Selain Baraka, dangke juga mudah di dapatkan di Kecamatan Anggeraja, Alla dan Enrekang,” tandasnya.
Harapan agar industri dangke bisa cepat berkembang datang dari Presiden SBY. Dalam sambutannya di Ista Negara yang dihadiri sejumlah kabinet Indonesia Bersatu II, SBY berharap pemberian penghargaan ini mampu memotivasi perkembangan industri di Tanah Air. “Semoga terus menjadi contoh, berkreasi dan terus mengembangkan dunia industri dan perekenomian di negeri kita,” harap orang nomor satu di Indonesia ini.

Sumber: http://www.ujungpandangekspres.com 

Komentar

Copyright © 2013 Enrekang.Com All rights reserved. Powered by Wordpress