Mengenal Musik Bambu dari Bumi Massenrempulu, Enrekang

Warisan Leluhur yang Hampir Punah
Di Enrekang alat ini akrab disebut musik bas. Cara memainkannya harus ditiup. Bukan dipukul atau ditabuh.

MINIM GENERASI. Keberadaan pemain dan grup musik bambu di Kabupaten Enrekang kini tak semarak dulu lagi. Kehadirannya pun mulai terancam punah.Lagu “Suruganna Bambapuang” mengalun indah kala Grup Musik Bambu Palatau tampil di Kecamatan Baraka, Enrekang belum lama ini. Masing-masing personelnya khidmat menikmati. Tak ada gerakan tubuh lain. Selain mulut yang bertiup. Terkadang, mata mereka pun ikut tertutup. Saking khusyuknya. Itu berlangsung hingga sebuah lagu penutup tuntas.

Dari telinga pendengar, memang nadanya syahdu nan merdu. Apalagi jika langit ikut membiru. Suasana pasti semakin padu. Ya, hanya dari bambu mereka berkarya. Memainkan musik khas daerah dari petung. Alat musik bambu beragam. Ada tenor bambu, ada bas bambu (ukurannya yang paling besar), rythem bambu serta suling bambu. Pokoknya serba bambu. Cuma orang-orangnya saja yang bukan bambu.

Kata Hamin, 47 tahun, sang konduktor, alat musik ini adalah warisan leluhur sejak puluhan tahun silam. Hamin adalah pemimpin grup Bambu Palatau. Ia juga sebagai pelatih dan bertugas memberi aba-aba saat tampil. Ia berdiri menghadap anggotanya sembari menganyun-ayunkan tangan. Nada dari musik bambu tergantung dari gerakan lengannya. Ia juga dikenal khalayak sebagai generasi terakhir yang aktif mengajarkan musik bambu di Enrekang kini.

Ia belajar musik bambu saat masih duduk di bangku MIS (Madrasah Ibtidaiyah Swasta) Rumbia (sekarang Negeri, MIN), 1973 silam. Ia mengaku diajar langsung gurunya, R Faisal (Kepalah MIS) waktu itu. Sampai sekarang musik bambu menjadi bagian vital hidupnya.

Bahkan dari alat ini pun ia hidup dan menghidupi anggota grupnya. “Saya dan musik bambu sudah kayak anak dan bapak,” ujar Sarjana Ilmu Pendidikan, STKIP Muhammadiyah Sidrap (2003) itu.

Kini, ia bertekad menjaga kelestarian musik bambu dari kepunahan. Bersama grupnya itu, ia kerap pentas keliling Indonesia. Dari Bali, Jakarta, hingga Kalimantan. “Kalau di Sulsel hampir semua daerah sudah,” lanjut pria yang juga selaku Kepala Seksi Pembinaan Kesenian Daerah Dinas Infokom Enrekang itu.

Sekarang, ia telah berhasil menurunkan titah bermusiknya ini kepada Nur Muslimah, anaknya. Muslimah baru tamat SD tahun kemarin (2011). Prestasinya bahkan telah menusantara. Gadis belia itu pernah diplot sebagai pemusik tradisional terbaik Anak-anak Tingkat Nasional tahun 2009 lalu di Gedung Kesenian Jakarta.

Hanya mimpi keliling dunia dengan musik bambu yang belum bisa ia wujudkan. Ia dan grup musiknya belum sekalipun menginjakkan kaki ke negeri orang di seberang sana. Sebab, nyanyian daerah dengan bambu, baru bisa ia perdengarkan di wilayah nusantara.

Masyarakat Massenrempulu sendiri menyebut musik bambu sebagai musik bas. Komponennya memang terbuat dari bahan bambu. Yakni bambu jenis petung. Dengan suara yang khas. Bentuk peralatannya mirip musik angklung dari Jawa Barat. Keduanya juga dimainkan berkelompok. Bedanya, alat musik angklung mengandalkan bunyi suara bambu sambil digoyang-goyangkan. Sedangkan musik bas ini caranya ditiup. Alat ini pun terus berkembang dari tahun ke tahun sejak ia muncul. Kini, fungsinya menjadi sarana hiburan rakyat di pedalaman Enrekang.

Selain itu, alat ini juga kadang dilengkapi alat tabuh dari kulit sapi. Yang dimainkan beramai-ramai saat upacara adat, menyambut musim panen, pesta pernikahan atau pesta rakyat. Biasa juga ditampailkan saat konser musik bambu antarkelompok tani serta siswa sekolah dasar dan menengah di Enrekang. Musik bambu dikenal mulai berkembang semasa penjajahan Belanda di Indonesia.

Soal awal mulanya, belum ada satupun warga Massenrempulu yakin dari mana asalnya. Entah ini asli kesenian Kabupaten Tana Toraja atau masuk alat musik Kesenian Enrekang. “Dulu kan kita satu nenek, Tator dan Enrekang. Jadi kita tidak tahu, darimana aslinya,” kata Sumantri, 46 tahun.

Pria berjenggot lebat ini juga pemain musik bambu sejak kecil. Pengetahuan musik bambunya ia dapat dari Yunus, gurunya dulu saat masih kelas 2 di SD Liang Bai Kecamatan Buttu Batu, Enrekang tahun 1976 silam. Hingga kini, Sumantri masih sering tampil sebagi konduktor bersama grup musik bambunya dari Baraka. Apalagi jika ada perlombaan dan acara seremoni.

Teknik pembuatan musik bambu sangat tradisional. Namun aturan solmisasi musik bambu cukup sempurna. Sebab nadanya selaras dengan standar suara garpu tala. Selain suling, peralatan musik itu dilengkapi alat bas dari bambu berukuran sedang. Untuk bas A

terdiri nada do, mi, sol. Bas B untuk nada fa, la. Sedangkan bas C untuk nada re dan si. Musik tersebut dapat mengiringi banyak lagu. Tetapi lemah bila dimainkan untuk lagu minor. Bukan tidak bisa, namun rumit dipadu-padankan seperti sopran, tenor, dan alto. Sejak dulu, musik bambu telah memperkaya khasanah budaya Suku Massenrempulu (Maiwa, Duri, Enrekang). Sejumlah kelompok musik bambu pun masih bertahan. “Sampai sekarang masih ada sekitar 40 grup musik bambu di Enrekang,” sebut Sumantri saat ditemui di rumah panggungnya di Dusun Dea Kaju, Desa Kadingeh, Kecamatan Baraka belum lama ini.

Sayangnya, kata dia, laju modernisasi kini menjadi ancaman serius musik bambu. Sebab tak banyak yang ingin meneruskan kesenian tradisional ini. Apalagi, hanya sedikit generasi muda yang berminat mempelajarinya. “Anak-anak sekarang sudah kurang suka belajar musik bambu atau kesenian dan budaya seperti ini,” katanya.

Kebanyakan pemusik bambu diisi deretan warga berumur. Maka, sebagai musik warisan leluhur yang patut dipertahankan. Keberadaan musik bambu kini terancam punah. Ditambah, banyak pula yang menganggap alat musik ini kampungan. Kalah kelas dari alat-alat musik modern sekarang. Meski begitu, Hamin, Sumantri dan beberapa pelatih musik bambu lainnya tetap berharap, kondisi ini ke depan terbalik. Terlebih sejak Bupati Enrekang, La Tinro La Tunrung menjadikan musik bambu sebagai pelajaran ekstra sejak 2006 lalu di semua sekolah dasar dan sekolah menengah di Tana Rigalla, sebutan lain Enrekang. “Sebenarnya di Enrekang bukan cuma musik bambu musik tradisional yang ada. Masih ada sekitar 20 alat kesenian lainnya. Tapi rata-rata sudah tidak ada sekarang. Seperti musik Pa’galelu dan Karombang,” pungkas Sumantri dengan dahi berkerut sambil tersenyum kecut.(*/ars)

Sumber: http://www.fajar.co.id

 

Comments

  1. Nurlah says:

    Kalau kita melihat ke belakang di tahun 70 an, kenapa musik bambu menjadi ramai. itu tidak lepas dari peran serta Pemda khususnya di Kec. Baraka. Karena memang selalu diperlombakan disetiap even atau acara-acara resmi ataukah acara penyambutan Pejabat yang berkunjung ke Kab. Enrekang. Memang menjadi tugas kita pemerhati musik bambu ini untuk mengembalikan ke zaman keemasannya terutama pemda & otoritas di sekolah-sekolah.

  2. tasrin says:

    agar tidak punah musik bambu di jadikan pelajaran muatan lokal di sekolah2….

  3. kamaruddin says:

    Musik Bambu adalah bagian dari kebudayaan nasional RI yang berasal dari kabupaten Enrekang untuk itu marilah kita melestarikannya dengan memahami dan mempelajarinya sebagai bagian dari tradisi kehidupan sehari-hari.

Copyright © 2014 Enrekang.Com All rights reserved. Powered by Wordpress